Alhamdulillah Bersyukur Kepada Allah yang telah memberi kita semuanya

imam's posts with tag: penghuni surga

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag penghuni surga
Blog EntrySinggah di Taman Surga DuniaNov 13, '07 11:36 AM
for everyone
sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0504/28/renungan_jumat.htm

Singgah di Taman Surga Dunia
Oleh ADE SUDARYAT

RABI'AH bin Aslam, salah seorang sahabat Nabi saw. dari kelompok ahlu shuffah yang juga menjadi pembantu Nabi saw., pernah ditawari oleh Nabi saw., "Mintalah kamu kepadaku! Apa yang kau inginkan dariku?"

"Aku hanya menginginkan, kelak di akhirat dapat menyertaimu duduk di surga," kata Rabi'ah. "Ada permintaan yang lainnya?" lanjut Nabi saw. "Hanya itu saja, ya Rasulallah", jawab Rabi'ah.

"Kalau begitu, bantulah aku agar doa atas permintaanmu terkabul", demikian pinta Rasulullah saw. "Dengan apa membantumu ya Rasulallah?"

"Perbanyaklah melaksanakan salat sunat," jawab Rasul saw.

Itulah sebagian keinginan sahabat Rasulullah saw. Mereka begitu mendambakan menjadi ahli surga. Mereka menginginkan sekali mendapatkan kebahagiaan yang abadi. Untuk mencapainya mereka rela berjuang mengorbankan kesenangan dunia, demi kebahagiaan akhirat. Mereka rela tak memiliki apa-apa di dunia, asalkan mereka memiliki apa-apa di akhirat.

Banyak sekali ayat Alquran maupun Alhadis yang menerangkan tentang keindahan dan kenikmatan surga. Hal itu Allah dan Rasul-Nya terangkan agar kita merasa terdorong untuk berusaha menjadi salah seorang calon penghuninya. Tidaklah mudah untuk menjadi penghuni surga. Banyak rintangan terbentang yang menghadang untuk meraihnya. Lain halnya dengan jalan ke neraka. Hawa nafsu dan setan begitu kuat mendorongnya.

Namun demikian, janganlah putus asa berjuang untuk meraihnya. Kita harus senantiasa meningkatkan kesungguh-sungguhan kita dalam menaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Dekatkanlah selalu diri kita terhadap-Nya. Mintalah selalu pertolongan-Nya agar kita senantiasa istiqamah di jalan-Nya. "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (Q.S. 29:69).

Kebersihan hati merupakan kunci utama terbukanya pintu surga bagi kita. Hanya orang-orang yang hatinya bersih dari sifat riya, takabur, dendam dan bersih dari prasangka buruk, baik kepada Allah maupun kepada manusia, yang akan menjadi penghuni surga. Sebesar biji sesawi saja terdampar kesombongan di hati kita, pahala dari Allah dan pintu surga tertutup bagi kita. Demikian pula halnya bila sifat riya, dendam dan su'udzon masih terdampar di hati kita.

"Tiga golongan orang yang pertama akan mengisi neraka, ialah ulama, mujahidin dan para dermawan yang semuanya riya dengan amalnya." (Tafsir Ibnu Katsit, Juz I:496).

"Barangsiapa yang riya dalam beramal, tak ada bedanya dengan orang yang menggendong air untuk dipindahkan ke atas gunung. Ia hanya memperoleh rasa lelah dan capek. Amal perbuatannya tertolak sama sekali. Tatkala gunung itu telah menyatu dengan air, sedikit pun gunung itu tidak meleleh" (Imam Al-Ghazali dalam Al-Mawa'idz fil Ahadits Al-Qudsiyah).

Suatu ketika, tatkala Nabi saw. memberi nasihat kepada para sahabat sambil duduk berkeliling, beliau berkata, "Sebentar lagi akan datang melewati kita seorang laki-laki dari golongan ahli surga".

Para sahabat sangat heran dengan perkataan Nabi saw. tersebut. Tak lama kemudian lewatlah seorang laki-laki dengan penampilan yang sangat sederhana. Rasul pun menunjuk kepada orang tersebut, itulah dia dari golongan ahli surga. Abdullah bin Amru ibnu Ash, penasaran dengan perkataan Rasul saw. Beranjaklah ia untuk meneliti perilaku orang tersebut. Ia berpura-pura kemalaman dan memohon menumpang tidur di rumah orang tersebut.

Sampai tiga malam ia meneliti dan mengikuti perilaku dan ibadah orang tersebut. Tak ada yang istimewa dari cara ibadahnya. Persis sama seperti yang dilakukan para sahabat lainnya. Akhirnya Abdullah bin Amru berterus terang tentang kedatangannya di rumah orang tersebut. Ia sampaikan apa yang dikatakan Nabi saw. sambil menanyakan apa keistimewaan dari orang tersebut.

Sang calon penghuni surga menjawab, "Seperti yang kamu lihat, aku tak melakukan apa pun kecuali seperti yang kamu lihat. Namun, aku tidak mendapatkan dalam diriku rasa curang terhadap seseorang dari saudara se-Islam dan juga aku berusaha untuk tidak iri dengki terhadap kebaikan yang Allah berikan kepada saudaraku se-Islam. Juga aku berusaha untuk tidak dendam terhadap orang-orang yang mengkhianatiku. Aku berusaha untuk tidak riya dengan amal-amalku".

Abdullah bin Amru mengambil kesimpulan. Selain kekhusyukan ibadahnya, kebersihan hatinyalah yang mengantarkan orang tersebut menjadi salah seorang dari golongan ahli surga. Subhanallah. "Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian. Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang memusakai surga yang penuh kenikmatan. Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat. Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, yaitu pada hari di mana harta dan anak-anak tidak berguna lagi, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (Q.S. 26:84 -89).

Menurut hadis Rasul saw., di dunia yang fana ini terdapat tiga taman surga. Jika kita mendapatkannya, sempatkanlah untuk menyinggahinya walaupun hanya sebentar. Dengan menyinggahinya setidak-tidaknya kita sedang benar-benar mencalonkan diri untuk menjadi penghuninya yang abadi kelak di akhirat. Ketiga taman surga tersebut adalah, pertama, menjenguk saudara se-Islam yang sedang sakit. "Seorang Muslim jika menjenguk saudaranya sesama Muslim yang sedang sakit tetap berada dalam taman surga hingga ia kembali" (H.R. Muslim).

"Tidaklah seorang Muslim yang menjenguk sesama Muslim yang sedang sakit pada pagi hari, melainkan didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga sore hari. Dan jika menjenguknya pada sore hari, didoakan tujuh puluh ribu malaikat hingga pagi hari dan kelak di akhirat akan mendapat jaminan buah-buahan yang ada di taman surga" (H.R. At-Tirmidzy).

Kedua, majelis zikir. Yang dimaksud zikir di sini tidak saja hanya ingat kepada Allah secara lisan saja. Kebanyakan para ulama berpendapat, membahas halal dan haram, mencari ilmu yang manfaat, memberi nasihat yang baik dan mencegah kemunkaran termasuk zikir kepada Allah SWT.

"Apabila kamu melewati taman-taman surga, maka singgahilah dan nikmatilah sajiannya olehmu. Para sahabat bertanya, "Hai Rasulallah! Apakah taman surga itu?" Rasul menjawab, "Majelis-majelis zikir. Allah memiliki para malaikat yang selalu berkeliling mencari majelis-majelis zikir. Apabila mereka datang ke tempat itu, mereka duduk bersama orang-orang yang berzikir" (H.R. Muslim). Ketiga, salat di Masjid Nabawi. "Antara rumahku dan mimbarku ini merupakan salah satu dari taman-taman surga".

Sungguh berbahagia apabila kelak kita menjadi penghuni surga. Kita akan dapat merasakan kenikmatan yang luar biasa. Suatu ke-nikmatan yang belum pernah terdengar, terbayangkan dan belum pernah dirasakan selama kita hidup di dunia. Namun demikian, kita pun menyadari, betapa kotor dan hinanya diri kita. Kemaksiatan dan dosa selalu menghiasi perjalanan hidup kita.

Tapi seperti Allah SWT firmankan, kita tak boleh putus asa dari rahmat dan kasih sayang-Nya. Tobat dan pembersihan jiwa dengan akhlak mulia serta selalu mendekatkan diri kepada-Nya akan membuka peluang bagi kita untuk meraih kenikmatan surga.

Jika kamu memohon kepada Allah SWT, jangan tanggung-tanggung, memohonlah agar diperkenankan menjadi penghuni Surga Firdaus. Demikian sabda Rasul saw. Karenanya, jangan berhenti beramal saleh dan berharap ampunan, keridaan serta surga-Nya.

"Wahai manusia! Andaikan engkau takut pada api neraka sebagaimana engkau takut kepada kemiskinan, niscaya akan kucukupi kebutuhan hidupmu melalui cara-cara yang tak terjangkau oleh otakmu. Seandainya engkau tergila-gila kepada surga sebagaimana engkau tergila-gila kepada dunia, maka Aku akan memberikan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat" (Imam al Ghazali dalam Al-Mawa'idz fil Ahadits Al-Qudsiyah).***

Penulis Ketua DKM Nurul Hidayah Pasar Tengah Cisurupan Garut, anggota Klub Penulisan Hardim Bandung.



Blog EntryCALON CALON PENGHUNI SURGANov 13, '07 11:36 AM
for everyone

CALON CALON PENGHUNI SURGA
Siapakah calon-calon penghuni Surga? Allah menginformasikan nya kepada kita. Sebagian di antara mereka digambarkan dalam ayat ayat berikut ini.
 
QS. Al Ahqaf (46) :15
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandung dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila ia telah dewasa, dan umumya sampai empat puluh tahun ia berdoa : Ya, Tuhanku tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhoi, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
 
QS. Al Ahqaf (46) : 16
"Mereka itulah orang-orang yang diterima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan, dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni penghuni Surga, sebagai janji yang benar yang telah Kami janjikan kepada mereka"
 
Mengikuti ayat tersebut, kita memperoleh kesimpulan tentang siapakah orang yang bakal masuk Surga.
1. Orang yang berbuat baik kepada ibu bapaknya
2. Orang yang pandai bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang diterimanya.
3. Orang yang beramal saleh dengan mengharap ridho Allah.
4. Orang yang bertaubat atas segala kesalahan yang pernah dia lakukan.
5. Orang yang berserah diri hanya kepada Allah saja.
 
ldealnya, kita bisa mengerjakan kelima hal tersebut dalam kehidupan kita. Maka Insya Allah kita akan menjadi salah satu dari penduduk Surga. Itulah janji Allah. Orang yang demikian, kata Allah, akan diterima amalannya dan dimaafkan segala kesalahannya. Bagaimanakah penjelasannya? Marilah kita bahas lebih jauh.
 
1. Berbuat Baik kepada Ibu Bapak.
 
Kenapa orang yang berbuat baik kepada ibu bapaknya menjadi calon penghuni Surga? Sebab, orang tua adalah wakil Allah di muka Bumi, berkaitan dengan penciptaan manusia. Kalau tidak ada orang tua kita, maka kita pun tidak akan pernah ada di muka Bumi ini.
 
Karena itu, kita bisa merasakan betapa besar dan sentralnya peranan orang tua dalam kehidupan kita. lbu kitalah yang bersusah payah mengandung, memelihara dan mendidik sampai kita dewasa. Dan bapak kita berusaha mati-matian untuk menafkahi keluarga. Mempertahankan hidup kita sampai dewasa. Sampai bisa dilepas untuk bisa hidup mandiri. Maka, kata Allah di dalam ayat tersebut, anak yang bisa membalas budi kepada orang tuanya dan mendoakan mereka termasuk perhatian kepada anak cucunya akan memperoleh penghargaan yang tinggi dari Allah.
 
Orang yang seperti ini, telah 'membantu' Allah untuk menciptakan generasi-generasi yang berkualitas di muka Bumi bagi masa depannya. Maka, ia berhak memperoleh kebahagiaan Surga.
 
2. Orang Yang Pandai Bersyukur.
 
Orang yang pandai bersyukur menunjukkan bahwa ia adalah orang yang bijak. Sedangkan orang yang bijak menunjukkan bahwa dia orang yang memiliki pemahaman yang mendalam. Dan, orang yang memiliki pemahaman yang mendalam menunjukkan bahwa ia telah makan asam garam kehidupan.
 
Dalam konteks agama, ia bukan hanya orang yang bisa berteori di dalam beragama, melainkan telah menjalani agama ini dengan sepenuh hatinya. la telah 'bertemu' Allah dalam setiap aktivitas kehidupannya.
 
Bagaimana seseorang bisa bersyukur, kalau ia tidak pernah 'bertemu Allah'. Kepada siapakah ia bersyukur jika ia tidak paham bahwa Allah lah Tuhan semesta alam. Bahwa Allah lah yang telah memberinya kenikmatan itu. Baik berupa kesehatan, harta, kedudukan, ilmu pengetahuan, dan berbagai macam kenikmatan lainnya.
 
Orang yang bisa bersyukur adalah orang yang telah melewati masa-masa kritis dalam keimanannya, dalam ketakwaannya. la telah ditempa kehidupan yang memberikan kesimpulan bahwa hidup ini temyata milik Allah. Bukan miliknya. Karena itu, ia mensyukuri segala nikmat yang diperolehnya, sebab ia tahu persis bahwa semua itu semata-mata pemberianNya ... ! Maka, orang yang demikian ini sangat pantas tinggal di Surga.
 
3. Beramal Saleh, Mengharap Ridha Allah.
 
Kenapa pulakah orang yang beramal saleh pantas masuk Surga? Orang yang beramal saleh adalah orang-orang yang sepanjang hidupnya ingin bermanfaat sebesar-besarnya. Baik buat dirinya sendiri, buat keluarganya, buat sahabat-sahabatnya, buat masyarakatnya, buat bangsa dan akhirnya buat syiar agamanya.
 
Orang yang bisa beramal saleh adalah orang yang paham tentang misi kehidupan dan misi beragamanya. ia telah menemukan pemahaman yang menyeluruh (holistik) atas kehidupannya. Dan, setelah paham semua itu,  ia lantas melakukan amalan yang bermanfaat sepanjang hidupnya. Di mana pun dia berada.
 
Maka, orang yang demikian adalah orang-orang yang telah melewati tahapan iman dan takwa. Sebab Iman adalah Keyakinan. Dan Takwa adalah kemampuan mengendalikan diri saat melakukan amalan. Kedua duanya telah dijalankannya secara praktis saat ia melakukan amalan yang saleh.
 
Maka, pantaslah seorang yang banyak amalan salehnya akan memasuki Surga. Karena sebenarnya, itu adalah gambaran praktis dari seorang yang telah tinggi keimanan dan takwanya. Apalagi amalan salehnya itu bukan karena pamer atau pamrih, melainkan karena ingin mencari ridha Allah.
 
4. Orang yang Bertaubat.
Siapakah orang yang tidak pernah berbuat salah? Siapa pulakah manusia yang tidak pernah berdosa? Tidak ada, kecuali hamba hambaNya yang dijaga agar tetap makshum oleh Allah, sebagaimana Rasulullah saw.
 
Karena itu, Allah telah menetapkan Dirinya sebagai Dzat Yang Maha Pengampun dan Penerima Taubat. Jika Allah menghukum manusia karena kesalahannya, maka manusia seluruh muka Bumi ini tidak ada yang tersisa satu pun dari azabNya. Tetapi Allah Maha Pengampun dan Maha Pemaaf.
 
Maka, sebenarnya, orang-orang yang bisa masuk Surga itu lebih dikarenakan sifat Pengampun dan PemaafNya saja. Jika tidak, maka sungguh tidak ada yang pantas masuk ke dalam Surga Allah itu, disebabkan oleh begitu banyak dosa yang telah diperbuatnya.
 
Karena itu, Allah mengatakan di dalam ayat tersebut bahwa orang-orang yang pantas masuk Surga itu adalah orang-orang yang selalu bertaubat kepadaNya.
 
Bertaubat adalah memohon ampunan dan belas kasih permaafan dari Allah atas segala dosa dan kesalahan yang telah di perbuatnya. Dan dia berjanji kepada dirinya sendiri dan kepada Allah untuk tidak mengulangi kesalahan itu lagi.
 
Kalau kita sepenuh hati memohon ampunanNya dan bertaubat, Insya Allah Dia akan memaafkan dosa-dosa kita, sebesar apa pun dosa yang telah kita lakukan. Tidak ada dosa di alam semesta ini yang besamya melebihi besamya Kasih Sayang Allah. Demikian pula, tidak ada dosa di dunia ini yang besarnya mengalahkan sifat Pengampun dan Pemaafnya Allah.
 
Maka, datanglah kepadaNya dengan berendah diri dan penuh penyesalan, Insya Allah Dia akan mengampuni dosa-dosa yang pernah kita lakukan, seluruhnya. Dan Ia akan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hambaNya di dalam Surga.
 
5. Berserah Diri Hanya kepada Allah Saja.
Puncak dari seluruh perjalanan keagamaan kita ini sebenarnya adalah berserah diri kepada Allah. Seluruh tahapan-tahapan kualitas yang pernah kita jalani dalam beragama, muaranya adalah berserah diri kepada Allah saja. Hal ini dikemukan Allah di dalam berbagai ayatNya.
 
QS. An Nisaa : 125
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya di antara kalian, selain orang orang yang berserah diri hanya kepada Allah, dan dia selalu berbuat kebajikan…”
 
Berserah diri adalah tingkatan tertinggi di dalam beragama Islam. Sehingga secara retorika, Allah bertanya kepada kita : siapakah yang lebih baik agamanya di antara manusia, kecuali orang-orang yang berserah diri kepada Allah? Jawaban atas pertanyaan itu telah diberikan sendiri olehNya, bahwa yang terbaik adalah berserah diri
 
Di ayatNya yang lain, secara tegas Allah menempatkan 'berserah diri' itu di atas keimanan dan ketakwaan.
 
QS. Ali Imran (3) : 102
"Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan berserah diri (Islam)."
 
Keimanan adalah langkah awal, dimana seseorang 'dianjurkan' untuk memperoleh keyakinan bahwa apa yang akan dia jalani di dalam beragama ini adalah benar dan bermanfaat.
 
Setelah ia peroleh keyakinan itu, maka ia mesti menjalankan dalam kehidupan yang sesungguhnya. Sebab beragama ini memang bukan sekadar pengetahuan dan keyakinan saja, melainkan untuk dijalani. Diamalkan. Itulah Takwa : sebuah upaya terus-menerus untuk tetap istidomah di dalam menjalani agama. Ini tidak mudah. Karena itu Allah mengatakan di ayat tersebut bertakwalah kalian dengan 'sebenar benarnya'. Dengan upaya yang sangat keras dan sungguh-sungguh.
 
Dan puncaknya, adalah berserah diri kepada Allah semata. Orang yang sudah makan asam garam kehidupan dalam proses peribadatan yang sangat panjang.
 
Ketika seseorang sudah mencapai tingkatan 'berserah diri kepada Allah', maka bisa dikatakan dia sudah menemukan hakikat kehidupan. Bahwa segala yang ada ini tenyata bukan miliknya.
 
Harta yang dia punyai pun sebenarnya bukan miliknya. Karena ternyata, dia tidak pernah bisa menolak kehadiran maupun lenyapnya harta itu ketika sudah waktunya.
 
Demikian pula istri atau suami, dan keluarga yang dicintainya. Semuanya juga bukan miliknya. Karena suatu ketika, mereka satu per satu akan meninggalkannya.
 
Kekuasaan, juga tidak pernah ada yang kekal abadi. Kekuasaan yang dia peroleh hari ini, suatu ketika harus dilepasnya pula. Dia dibatasi oleh umur dan kondisi di sekelilingnya.
 
Bahkan dirinya dan hidupnya. Ternyata, juga bukan miliknya. Dia tidak pernah bisa menghindari sakit, lelah, sedih, gembira dan berbagai masalah yang menghampiri kehidupannya. Bahkan akhirnya, dia tidak pernah bisa melawan proses ketuaan. Suatu ketika dia harus merelakan kehidupannya, meninggalkan dunia yang fana, untuk kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan.
 
Maka, ujung dari seluruh perjalanan kehidupannya itu, ia menyimpulkan untuk berserah, diri kepada Allah saja. la mengakui, bahwa dirinya bukan apa-apa. Allah lah yang memiliki dan berkuasa atas segala-galanya di alam semesta.
 
la letakkan seluruh rasa possessive nya, rasa kepemilikannya terhadap dunia. Dia menata hatinya untuk kembali kepada Allah. Berserah diri sepenuh-penuhnya, sebagaimana yang selalu ia ikrarkan dalam setiap shalatnya : "sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku kuserahkan hanya untuk Allah semata . . . "
 
Kalau sudah demikian adanya, maka sesungguhnya ia telah memperoleh Surga dunia. Dan setelah hari kiamat nanti, Allah akan memasukkan orang itu ke dalam Surga yang sesungguhnya. Bukan hanya 'wilayah Surga' yang penuh dengan taman-taman indah, mata air mata air yang jernih, buah-buahan yang sedap rasanya, serta berbagai kenikmatan kebendaan. Karena sejak di dunia ia telah terlanjur memperoleh kesimpulan bahwa semua kenikmatan benda itu adalah 'semu belaka'!
 
'Kenikmatan Yang Sejati' telah dia peroleh lewat dzikir-dzikirnya yang panjang kepada Allah. Telah dia rasakan saat-saat shalat malam dalam  keheningan semesta. Dan telah dia 'genggam' dalam seluruh tarikan nafas maupun denyut jantungnya yang selalu membisikkan kalimat-kalimat tauhid : Allah ... Allah ... Allah ...




Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan.
Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help